Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat datang di BLOG Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo, Semoga bermanfaat dan Berkah.

Hikmah

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang (berjuang) dijalannya dengan terorganisasi rapih, seperti sebuah bangunan yang tersusun kuat". (QS. as-Shaf : 4)

Program

Dalam Pengembangan.

Mutiara Hikmah

"Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al Maidah : 2)

Sekretariat

Jl. Raya Pantai Prigi, RT. 11/03 Desa Prigi, Kec. Watulimo, Kab. Trenggalek - 66382.

Pages

Senin, 10 Oktober 2016

Menepi Sejenak ke Karbala

Dia hanya berjarak setahun dengan abangnya Hasan. Nabi menyebutnya Husein yaitu Hasan kecil.
Masa kecil Husein diliputi kebahagiaan dan keceriaan masa anak-anak. Dia tidak pernah terlihat berpisah dengan kakeknya. Sahabat-sahabat Nabi ketika menceritakan tentang Husein, mereka akan berkata, “Selalu saja kulihat Husein itu duduk dipangkuan Nabi, sambil sesekali diciumi Nabi.” Bahkan ada salah seorang sahabat yang merasa risih, saking seringnya dia melihat Nabi menciumi al Husein.
“Ya Rasulullah, saya mempunyai 10 anak laki-laki dan tidak seorang pun dari mereka yang pernah kucium.”
“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Allah akan mencabut rasa sayang dari hatimu.”
Tidak hanya diwaktu senggang, Nabi selalu bersama Husein. Bahkan di waktu sedang memimpin jamaah shalat sekalipun. Husein dan abangnya berkejaran diantara kedua kaki Nabi yang sedang shalat. Ketika Nabi sujud, keduanya bergantian menunggangi pundak Nabi. Akibatnya, Nabi memperlama sujudnya. Sehabis shalat, para sahabat bertanya, apa gerangan yang terjadi mengapa sampai sujud Nabi sedemikian lama. Nabi menjawab, “Kedua cucuku ini menunggangi punggungku, dan kubiarkan keduanya menyelesaikan keinginannya.”
Salah seorang sahabat pernah mendapati Nabi sedang asyik bermain dengan kedua cucunya. Husein dan Hasan naik di punggung Nabi bersamaan. Sahabat itu turut tersenyum melihat tingkah keduanya, sambil berkata, “Amat beruntung kalian berdua, memiliki tunggangan yang paling baik.” Nabi berkata, “Dan keduanya adalah penunggang terbaik.”
Pernah Nabi sedang berkhutbah. Diatas mimbar beliau melihat al Husain dan abangnya berkejar-kejaran. Karena baju yang dipakai al Husein kepanjangan, ia menginjaknya sendiri, dan terjatuh. Nabi spontan melompat dari mimbar dan menggendong cucunya itu, kemudian melanjutkan khutbahnya kembali. Nabi tidak ingin Husein terluka sedikitpun, apalagi sampai menangis. Menenangkan hati cucunya itu, lebih utama bagi Nabi dibanding khutbah yang disampaikannya.
Berkali-kali sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat, begitu besar kecintaanmu pada Husein.” “Iya, Husein dari aku, dan aku dari al Husein. Mencintai aku siapa yang mencintainya, dan memusuhi aku siapa yang memusuhinya.” Mendengar sabda itu, sahabat-sahabat Nabi pun berlomba-lomba menunjukkan kecintaan yang serupa kepada Husein.
Setiap Nabi usai menyampaikan khutbah atau nasehat kepada sahabat-sahabatnya, Husein dan Hasan segera berlomba berlari kembali ke rumah. Keduanya adu cepat untuk menyampaikan apa yang dikatakan Nabi kepada ibunya, Fatimah. Begitu Ali datang dan hendak bercerita kepada istrinya tentang apa yang telah disampaikan Nabi tadi, Fatimah segera memotong, “Sudah saya tahu.”
Ali hanya keheranan, “Kamu tahu dari mana?”. Sang Bunda tersenyum sambil menunjuk kedua anak laki-lakinya yang tertawa senang.
Pernah, ada seorang kakek tua sedang berwudhu, namun caranya salah. Husein dan Hasan melihat kejadian itu. Husein segera berkata kepada abangnya, “Bang, yuk kita bertanding, siapa yang wudhunya paling benar.”
Hasan menyanggupi tantangan itu. “Tapi siapa yang menjadi jurinya?” Husein pun meminta kepada kakek yang hadir disitu. "Kek, siap jadi juri ya..” Sang kakek mengiyakan.
Keduanya pun melakukan wudhu dihadapan kakek itu. Dan begitu usai, kakek ditanya siapa yang wudhunya paling benar. Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar. Saya yang salah.”
Husein sukses memberitahu cara wudhu yang benar kepada si kakek, tanpa merasa digurui.
Husein tidak lama bersama Nabi. Di usianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa sedihnya Husein kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.
Tapi tahukah kau akhir hidup cucu yang begitu disayangi Nabi itu?. Tahukah kau bagaimana kisah selanjutnya dari penunggang Nabi itu? Tahukah kau apa yang terjadi dengan leher dan bibir Husein yang sering dikecup oleh Nabi itu?
Ia mati dalam keadaan lehernya tersembelih, dan bibirnya ditusuk-tusuk pedang.
Smoga yg kita ingat tidak hanya seolah-olah Husein hanyalah cucu Nabi, yang sepanjang usianya adalah cucu yang larut dalam kegembiraan masa kanak-kanak.
Mana masa muda Husein, yang diminta ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa muda Husein yang ikut membela ayahnya dalam perang-perang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir Husein, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya?
Nabi bersabda tentangnya, “Husein adalah pemimpin pemuda di surga…”
Kau tahu dimana kepalanya yang sempat dipermainkan itu dikubur?
Secuil itukah yang kau tentangnya?
|
Matahari bersinar garang, tepat di atas kepala-kepala berbalut sorban yang telah basah bermandikan keringat dan debu. Seorang pria setengah baya berteriak keras, “Hentikan pertempuran! Waktu Zhuhur telah tiba, kita harus shalat!!”
Suara pria gagah itu lenyap ditelan gemuruh ribuan pasukan musuh yang terus merangsek maju. Ia mengeluh. Perlahan ia memutar pandangan ke sekelilingnya. Satu.. dua.. tiga.. hanya tinggal belasan orang saja kerabatnya yang masih bertahan hidup. Dengan tenaga yang masih tersisa pedang mereka menebas ke kanan dan ke kiri, menumbangkan satu persatu musuh yang mencoba mendekat.
Pria itu kembali menghela nafas. Ketika matahari terbit pagi itu, ada tujuh puluh dua orang keluarga dan sahabat prianya yang berdiri gagah di belakangnya. Namun kini tinggal beberapa...
Memang. Apalah arti tiga puluh dua penunggang kuda dan empat puluh orang pejalan kaki, dibanding empat ribuan orang pasukan musuh. Satu persatu anggota pasukan kecil itu tumbang sebagai syahid. Dan ketika matahari mulai tergelincir ke barat, hanya tinggal orang saja yang tersisa, berjuang membela harga diri, kehormatan dan kebenaran yang mereka yakini.
Padang tandus itu masih mengepulkan debunya ke udara. Tak hanya pengap gurun yang tercium, udara ditepian sungai Eufrat siang itu juga mulai menebarkan bau amis darah.
Siang itu, terik mentari padang pasir menjadi saksi sebuah peristiwa kelam yang terus dikenang hingga saat ini, Perang Karbala. Perang, yang terjadi antara Husein bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya melawan tentara Dinasti Umayyah yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dan Syimar bin Dziljausyan, itu nyaris memusnahkan keturunan Rasulullah dari garis Al-Husein. Konon, pertempuran tak berimbang yang tak ubahnya pembantaian itu sudah diramalkan Nabi Muhammad di hari Husein lahir.
Dikisahkan, 57 tahun sebelumnya, ketika mendengar Fatimah telah akan melahirkan putra keduanya, Rasulullah segera bergegas menjenguknya. Tak lama kemudian tangis sang jabang bayi pun pecah. Tangis itu sangat keras, sekokoh hati pemiliknya. Nabi Muhamad lalu meminta cucunya itu dibawa ke pangkuannya untuk dibacakan adzan dan iqamah.
Asma binti Umais, sahabat Anshar yang membantu Fatimah saat melahirkan, segera menggendong bayi merah itu dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi. Setelah diadzani dan diiqamati, sang jabang bayi lalu diberi nama Husein, semakna dengan nama sang kakak yaitu Hasan yang berarti kebajikan.
Ketika tengah asyik menciumi sang cucu, tiba-tiba Nabi termangu dan meneteskan air mata. Umais pun segera bertanya, “Mengapa di hari bahagia ini Anda menangis, wahai Rasulullah?.”
“Jibril baru saja memberitahu kepadaku, kelak anak ini akan dibunuh oleh sebagian umatku yang durhaka. Jibril juga menunjukkan tanah di mana Husein terbunuh.”
Ibnul Atsir, dalam tarikh Al-Kamil-nya, menceritakan, Nabi pernah memberikan segumpal tanah berwarna kekuningan kepada Ummu Salamah, salah satu istri beliau, yang didapat dari Malaikat Jibril. Tanah tersebut, menurut kabar dari Jibril, berasal dari daerah di mana Al-Husein akan terbunuh dalam sebuah pertempuran.
Nabi berpesan kepada Ummu Salamah, “Simpanlah tanah ini baik-baik. Bila warnanya berubah menjadi merah, ketahuilah bahwa Al-Husein telah meninggal dunia karena dibunuh.”
Dan, tepat pada tanggal 10 Muharram 57 H, Ummu Salamah menyaksikan gumpalan tanah pemberian suaminya berubah warna menjadi merah. Tahulah ia, cucu kesayangan Rasulullah itu telah meninggal dunia. Ummu Salamah adalah orang pertama di Madinah yang mengetahui perihal kematian Al-Husein. Dari mulutnya pula berita duka itu menyebar ke segenap penjuru kota dan menggemparkannya.
Perang Karbala’ adalah tragedi terbesar kedua dalam sejarah Islam setelah beberapa perang saudara pada masa pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yakni Perang Jamal, yang menghadapkan Ali bin Thalib dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Aisyah, dan Perang Shiffin, antara tentara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Matahari terus bergerak ke arah barat. Menyadari pasukan musuh sama sekali tak berniat menghentikan pertempuran, bersama sisa pengikutnya Husein pun mendirikan shalat khauf, shalat darurat di tengah medan perang. Di antara mereka tampak adik tirinya, Abbas; putra kedua Husein, Ali Al-Akbar; dan kemenakannya, Qasim bin Hasan bin Ali. Bergantian mereka melaksanakan ruku’ dan sujud, sementara yang lain berusaha melindungi dengan pedang dan tombak.
Matahari semakin menyengat ketika shalat khauf usai. Kembali Imam Husain dan para pengikutnya berjuang mempertahankan diri. Dan kembali, satu persatu anggota pasukan kecil itu berguguran, hingga akhirnya tinggal Husein, Ali Al-Akbar bin Husein, dan Abbas saja yang tersisa.
Dengan gagah berani Ali Akbar menerjang musuh dan berhasil menumbangkan tiga atau empat orang musuh sebelum sebuah sabetan pedang membuatnya terluka parah. Ia mundur mendekati sang ayah karena merasa sangat kehausan. Namun sejak pagi, persediaan air rombongan Al-Husein telah habis. Sementara untuk mengambil dari sungai Eufrat yang tak seberapa jauh juga tak memungkinkan, karena ribuan tentara Umayyah berbaris menjaganya.
Dengan wajah iba Husein menentramkan putranya, “Bersabarlah anakku, sebelum petang Datukmu Rasulullah akan datang untuk memberimu minum dengan kedua tangan beliau yang mulia.”
Mendengar ucapan sang ayah yang menjanjikan kesyahidan, semangat Ali Akbar kembali tersulut. Ia segera kembali ke tengah pertempuran dan menumbangkan dua atau tiga lawan. Langkah pemuda pemberani terhenti ketika sebatang anak panah menembus lehernya. Ali Akbar menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuang sang ayahanda.
Tiba-tiba dari dalam tenda seorang perempuan menghambur keluar dan berlari menuju Imam Husein yang tengah memangku jasad Ali Akbar. Tangisnya pecah saat memeluk jenazah kemenakan tercintanya. “Terkutuklah orang-orang yang telah membunuhmu, Anakku,” raung Zainab binti Ali, adik kandung Husein. Kematian Ali Akbar menggenapkan dukanya setelah sepagian melihat tiga putranya Aun Al-Akbar, Muhammad dan Ubaidullah gugur di medan perang Karbala’.
Al-Husein, sambil membawa jenazah Ali Akbar, segera menarik adiknya kembali ke tenda. Tiba-tiba dari arah belakang kemudian terdengar teriakan seorang bocah kecil, “Hai orang jahat! Kau mau membunuh pamanku?.”
Dengan berani anak itu menghadang laju seorang prajurit Umayyah yang akan membokong Husein. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu. Sejurus kemudian Qasim bin Hasan bin Ali, demikian nama anak yang baru menginjak remaja itu, menjerit karena seorang tentara musuh menebas putus tangan mungilnya.
Husein segera meraih remaja yang mewarisi ketampanan ayahandanya itu. Dengan lembut ia berbisik di telingan kemenakan kecilnya, “Tabahkan hatimu, anakku sayang. Allah akan segera mempertemukanmu dengan ayah dan kakekmu.”
Kini hanya tersisa Husein dan adik tirinya Abbas bin Ali. Penatnya bertempur seharian dan teriknya matahari siang membuat dahaga keduanya tak tertahankan lagi. Mereka pun nekat menerobos barisan tentara Umayyah yang menjaga tepian sungai Eufrat. Berhasil. Dengan tergesa keduanya menciduk air dengan kedua telapak tangannya.
Namun sebelum dahaga itu terobati, hujan anak panah membuat Abbas rebah tak bangun lagi. Sebatang anak panah juga menghujam pipi Al-Husein. Dengan pilu dicabutnya anak panah dan menutup lubangnya dengan telapak tangan. Kepala suami Syahbanu, putri kerajaan Persia, itu kemudian tengadah dan berdoa, “Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku mengadu. Lihatlah perlakuan mereka terhadap cucu rasul-Mu.”
Matahari telah condong di ufuk barat. Waktu Ashar yang telah datang menjelang menjadi saksi Husein yang tinggal berjuang sendirian. Wajahnya nampak lelah, meski tak mengurangi sorot keberaniannya, dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka senjata.
Puluhan anggota pasukan Umayyah mengurungnya. Namun seperti tersihir, tak satupun yang berani mengayunkan pedang ke arah Imam Husain. Nampaknya ada keraguan yang menyelimuti benak masing-masing pasukan. Mereka tengah menimbang, “Beranikah menanggung resiko menjadi orang yang menghabisi nyawa cucu Rasulullah?.”
Sementar Al-Husein, dengan segala kewibawaan dan harga diri yang diturunkan ayah dan kakeknya, berdiri di tengah-tengah dengan pedang teracung. Ia berseru lantang, “Apa yang membuat kalian ragu membunuhku. Majulah. Demi Allah, tidak ada pembunuhan yang lebih dibenci Allah dari pada pembunuhanku ini. Sungguh Allah akan memuliakanku, dan menghinakan kalian.”
Melihat Al-Husein sendirian di tengah kepungan musuh, Zainab –yang belakangan di kenal sebagai Bathalah Karbala, pahlawan Karbala—berseru, “Mudah-mudahan langit ini runtuh.” Ketika itulah Umar bin Sa’ad, sang panglima tentara Umayyah, melintas. Zainab pun memanggilnya, “Hai Umar, tega sekali kau melihat Husein dibunuh di depan matamu.” Umar tertegun, matanya nampak berkaca-kaca, namun ia segera berlalu.
Tiba-tiba Syimar Dzil Jausyan mendekati kepungan. Melihat anak buahnya tak ada yang berani menyerang Husein, ia pun membentak, “Terkutuk kalian semua! Apa yang kalian tunggu? Cepat bunuh dia! Khalifah akan memberikan hadiah yang besar bagi kalian.”
Bentakan itu seakan membangunkan mereka dari mimpi. Zara bin Syarik mengayunkan pedangnya hingga memutuskan lengan kiri Al-Husain. Masih dalam keadaan limbung, tombakan Sinan bin Nakhi merobohkan tubuh cucu baginda Nabi itu ke tanah. Melihat teman-temannya masih diam tertegun, Sinan segera turun dari punggung kudanya dan memenggal kepala Husein bin Ali bin Abi Thalib. Husein wafat pada tanggal 10 Muharram 61 H, lima puluh tujuh tahun setelah Rasulullah mendapat kabar kematiannya dari Malaikat Jibril.
Tak cukup puas, serdadu-serdadu yang sudah kesetanan itu lalu menjarah benda berharga yang melekat pada mayat-mayat pejuang pembela Husein dan merampok barang bawaan di tenda-tenda rombongan Ahlul Bait. Saat itulah Syimar menemukan Ali Asghar, putra Al-Husein, yang sedang terbaring sakit di dalam tenda dengan ditemani bibinya, Zainab. Lelaki biadab itu pun bermaksud menghabisi Ali Ashgar, kalau saja Zainab tidak mati-matian mempertahankannya.
Sambil memeluk keponakannya, wanita pemberani itu berteriak, “Apa akan kau bunuh juga anak yang sedang sakit ini?.”
Syimar ragu-ragu sejenak sebelum memilih untuk meninggalkannya. Mungkin ia berpikir, tanpa dibunuh pun anak yang sedang sakit itu akan mati sendiri, karena kehabisan bekalan makanan, minuman dan obat-obatan. Namun siapa yang tahu rahasia Allah? Justru dari anak yang nyaris terbunuh itulah keturunan Al-Husein kemudian dapat berlanjut hingga saat ini.
Sejatinya, setidaknya ada dua "kriteria" pembunuh Husein. Pertama, yg membunuh jasadnya, yakni pasukan Yazid. Kedua, yang membunuh kehormatan dan nama baiknya, yaitu kelompok yang menafikan perjuangannya dan menyebut beliau pemberontak yang memang layak dibunuh dan tidak usah diingat-ingat lagi. Juga kelompok yang meyakini beliau benar dan gugur sebagai syuhada tapi tetap membela yang membunuhnya dan menuntut ummat untuk melupakan saja peristiwa tersebut
Seharusnya umat Islam lah lebih lebih berhak mengetahui salah satu sejarah paling kelam dan memilukan ini. Hal ini menjadi keheranan bagi Antoine Bara, seorang cendikiawan Kristen Suriah, penulis buku “Al-Husain fi al-Fikri al-Masihi” (Husain Dalam Kristianitas), dalam sebuah wawancara.
Tanya :
"Dalam buku anda dikatakan, “Jika Husain bin Ali berasal dari kelompok kami (Kristian ) niscaya kami akan menebarkan panji ‘perang’ di setiap penjuru bumi untuknya. Kami akan dirikan mimbar-mimbar di setiap belahan bumi dan dengannya kami akan mengajak manusia kepada Kristen atas nama Husain bin Ali”. Bagaimana bisa demikian?"

Antoine Bara :
"Ini bukanlah kata-kata saya, melainkan ucapan pendeta Kristen yang sezaman dengan masa kesyahidan Husain bin Ali. Sesungguhnya ia hendak menyingkap bahwa kalian para kaum Muslimin tidak mengenal kualitas imam kalian ini, Husein bin Ali.

Sungguh, kami memiliki monument jejak telapak kaki kuda al-Masih dan kami akan berhaji untuknya. Sedangkan kalian memiliki pusara suci jejak, keberkahan dan juga warisan tak ternilai dari Husein bin Ali. Kami belum pernah melihat kalian mengambil manfaat dan keuntungan darinya secara positif.
Adapun jikalau Husein bin Ali dari golongan kami, niscaya kami akan mendirikan monumen-monumen peringatan di setiap penjuru bumi untuknya, karena dia bukanlah sebuah fase yang bersifat matematis, bahkan dia merupakan pengorbanan pembebasan manusia, dan dia merupakan tonggak awal keazalian.
Sungguh pantas kita berkabung untuk ketragisan Husein ini, dan menyingkap misteri perjalanan Revolusi Husein bin Ali ini. Sungguh pantas kita sadar bahwa peristiwa Karbala ini benar-benar dahsyat. Dan sangat miris apabila banyak yg tidak tau apa itu karbala.
Bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan porsi perhatian yang lebih dihadapan para pemikir Muslim pada umumnya? Bagaimana bisa Karbala dibicarakan tak lebih dari peristiwa sejarah pada umumnya? Adapun muslim Syiah, mereka memandang peristiwa ini dengan pandangan penuh simpatik (meski agak ekstrem, red). Lalu saya lihat tulisan-tulisan kaum orientalis. Di sanapun tulisan-tulisan mereka hanya berkisar pada aspek-aspek material Karbala dan melupakan sisi-sisi revolusi spiritual dan kemasyarakatan. Bahkan di kalangan Muslim ada yg berpendapat bahwa kesalahan terbesar adalah kebangkitan dan perlawanan Husein itu sendiri (Tak lebih dari konsekuensi politik, red).
"Mereka tak akan pernah mau tahu", kata kiai Jarkoni. "Karena karbala tak mungkin membuat mereka bisa hidup senang2. Karbala itu hari kepedihan, hari kesunyian yg paling sepi dan puncak. Jadi mana mungkin spirit karbala membuat orang bisa ketawa-ketawa bahagia".
_________________________________
"Jika kau tidak menangis ketika mendengar kisah terbunuhnya Husein dibacakan, itu bukan karena kisah itu tdak layak ditangisi tapi karena hatimulah yg membatu dan layak ditangisi."
"Yang menangisi peristiwa Karbala tidak pasti Syiah. Namun yg bergembira atas peristiwa itu sudah pasti bukan sunni".

Sabtu, 08 Oktober 2016

Julukan dan Nama Lain Indonesia beserta Asal-Usulnya

Indonesia memiliki banyak nama lain atau julukan sebagai negara besar. Hal ini menjadi wajar ketika Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman hayati dan latar belakang budaya yang kental. Bahkan sebelum nama “Indonesia” tercetus dan dijadikan sebagai nama resmi selama bertahun-tahun, Indonesia memiliki banyak julukan yang memiliki kisah historis tersendiri. Berikut nama-namanya
1. Indonesia
Awalnya, dasar penamaan Indonesia digunakan untuk penggunaan ilmiah, karena berasal dari perpaduan dari bahasa Latin dan Yunani. Kata Indus mengacu pada pulau-pulau di luar benua India. Sedangkannesos berarti pulau.
Seorang akademisi pertama yang memperkenalkan nama “Indonesia” di seluruh dunia adalah James Richardson Logan di tahun 1850. Tepatnya di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Baru kemudian Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) menjadi sarjana Indonesia pertama yang memperkenalkan nama Indonesia dalam ranah politik.
2. Zamrud Khatulistiwa (The Emerald of Equator)
Bukan hanya karena terletak di garis khatulistiwa kemudian Indonesia mendapat julukan ini, tapi karena banyaknya gugusan pulau-pulau dan hutan hijau yang subur. Jika dilihat dari angkasa gugusan kepulauan Indonesia nan hijau menyejukan mata seperti batu Zamrud (emerald).
Letaknya yang berada tepat di bawah garis khatulistiwa membuat Indonesia mendapatkan cahaya yang cukup untuk mendukung keanekaragaman hayati. Hingga kemudian, Indonesia dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa.
Hal ini dikemukakan oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli), seorang penulis Belanda abad ke-19, untuk menggambarkan keindahan alam negara dalam salah satu suratnya.
3. Bumi Pertiwi atau Ibu Pertiwi
Ibu Pertiwi berasal dari bahasa Sansekerta pṛthvi atau juga pṛthivi, yang berarti dewi dalam agama Hindu atau Bumi dalam Bahasa Indonesia. Sebagai pṛthivi mata, Ibu Pertiwi merupakan personifikasi nasional Indonesia sebagai perwujudan tanah air, yang merujuk kepada negara dan tanah di mana orang-orang lahir. Secara harfiah tanah dan air merupakan ekspresi idiomatic untuk mengarah pada rumah atau tempat asal usul.
4. Nusantara
Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno yang diambil dari kisah Sumpah Palapa. Ini berawal saat Patih Gajah Mada dari abad ke-14 Kerajaan Majapahit bersumpah untuk tidak makan palapa (kelapa atau pala) sebelum mempersatukan Nusantara (kepulauan Indonesia) di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah ini bermakna bahwa sang Patih tidak akan bersenang-senang (diibaratkan tidak memakan makanan lezat) sebelum misi untuk memperluas daerah kekuasaan Majapahit terpenuhi.
Sumber : brillio

Kamis, 06 Oktober 2016

Menjawab Tuduhan Penganut Ajaran Nenek Moyang

Sebuah pesan dari dai Salafi ditulis: “Sekira para kiai Aswaja NU mau menanggalkan hawa nafsu dan sikap fanatisme yang membabi buta terhadap tradisi leluhur mereka, niscaya mereka bakal mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para dai dari Salafi yang telah meluruskan makna Ahlu Sunnah wal Jamaah yang selama ini mereka pahami secara keliru”
Jawaban:
Justru Dai dari Salafi yang baru mengetahui Islam dan belum mengerti metode ijtihad para ulama sejak dahulu. Apa yang telah kami amalkan memiliki landasan ijtihad sebagai berikut:
Qiyas Dalam Ibadah
– Sumber Hukum Qiyas
Ulama ahli Tafsir, Syaikh Fakhruddin ar-Razi, menjelaskan firman Allah dalam QS an-Nisa’: 59, sebagai 4 sumber hukum dalam Islam:

قَوْلُهُ : { أَطِيْعُواْ اللهَ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُوْلَ } يَدُلُّ عَلَى وُجُوْبِ مُتَابَعَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ . قَوْلُهُ : { وَأُوْلِى الْأمْرِ مِنْكُمْ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ إِجْمَاعَ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ … قَوْلُهُ : { فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ } يَدُلُّ عِنْدَنَا عَلَى أَنَّ الْقِيَاسَ حُجَّةٌ
“Firman Allah (ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul) menunjukkan kewajiban mengikuti al-Quran dan Hadis. Firman Allah (dan ulil amri) menunjukkan bagi kita bahwa Ijma’ umat Islam adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah (jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu…) menunjuk-kan bagi kita bahwa Qiyas adalah sebuah hujjah” (Tafsir al-Kabir Mafatih al-Ghaib, 5/248-251)
– Khilafiyah Qiyas Dalam Ibadah
Metode Qiyas semacam ini memang menjadi khilafiyah diantara lintas ulama Madzhab, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ali bin Muhammad al-Ba’li:

مَسْأَلَةٌ يَجْرِى الْقِيَاسُ فِى الْعِبَادَاتِ وَالْأَسْبَابِ وَالْكَفَّارَاتِ وَالْحُدُوْدِ وَالْمُقَدَّرَاتِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا وَالشَّافِعِيَّةِ خِلَافًا لِلْحَنَفِيَّةِ
“Qiyas berlaku dalam masalah ibadah, sebab-sebab syariat, kaffarat (denda/sanksi), hukum pidana dan ukuran, menurut ulama kami (madzhab Hanbali) dan madzhab Syafiiyah, berbeda dengan madzhab Hanafiyah” (Mukhtashar Ushul al-Fiqh ala Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, 1/151)
Contoh dari hasil ijtihad ini adalah membaca niat dalam salat, salaman setelah salat, adzan di kubur
Mengamalkan Hadis Dlaif
Ulama Salafi menvonis mengamalkan hadis dlaif adalah bidah, padahal tidak demikian. Sudah sejak masa ulama Salaf hadis dlaif diamalkan, bahkan hal ini diakui oleh Ibnu Taimiyah yang diberi gelar Syaikhul Islam oleh Salafi:
فَصْلٌ قَوْلُ أَحْمَد بْنِ حَنْبَلٍ : إذَا جَاءَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ شَدَّدْنَا فِي الْأَسَانِيدِ ؛ وَإِذَا جَاءَ التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ تَسَاهَلْنَا فِي الْأَسَانِيدِ ؛ وَكَذَلِكَ مَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ مِنْ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ : لَيْسَ مَعْنَاهُ إثْبَاتُ الِاسْتِحْبَابِ بِالْحَدِيثِ الَّذِي لَا يُحْتَجُّ بِهِ ؛ فَإِنَّ الِاسْتِحْبَابَ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ فَلَا يَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيلِ شَرْعِيٍّ
(Fasal) Perkataan Ahmad bin Hanbal: “Jika ada hadis yang menjelaskan halal dan haram, maka kami sangat ketat dalam menilai sanadnya. Jika ada hadis dalam masalah dorongan beribadah atau motifasi menginggalkan larangan, maka kami memberi kelonggaran dalam sanadnya”, demikian halnya para ulama yang mengamalkan hadis dlaif dalam hal keutamaan beramal; maksudnya adalah bukan unyuk menetapkan hukum sunah dengan hadis yang tidak dapat dijadikan hujjah. Sebab, sunah adalah hukum syar’i maka tidak dapat dijadikan ketetapan hukum kecuali dengan dalil Syar’i.
وَإِنَّمَا مُرَادُهُمْ بِذَلِكَ : أَنْ يَكُونَ الْعَمَلُ مِمَّا قَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ مِمَّا يُحِبُّهُ اللَّهُ أَوْ مِمَّا يَكْرَهُهُ اللَّهُ بِنَصِّ أَوْ إجْمَاعٍ كَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ ؛ وَالتَّسْبِيحِ وَالدُّعَاءِ ؛ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ ؛ وَالْإِحْسَانِ إلَى النَّاسِ ؛ وَكَرَاهَةِ الْكَذِبِ وَالْخِيَانَةِ ؛ وَنَحْوِ ذَلِكَ … وَمِثَالُ ذَلِكَ التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ بِالْإِسْرَائِيْلِيَّاتِ وَالْمَنَامَاتِ وَكَلِمَاتِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ وَوَقَائِعِ الْعُلَمَاءِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِمَّا لَا يَجُوزُ بِمُجَرَّدِهِ إثْبَاتُ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ ؛ لَا اسْتِحْبَابٍ وَلَا غَيْرِهِ وَلَكِنْ يَجُوزُ أَنْ يُذْكَرَ فِي التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ ؛ وَالتَّرْجِيَةِ وَالتَّخْوِيفِ . فَمَا عُلِمَ حُسْنُهُ أَوْ قُبْحُهُ بِأَدِلَّةِ الشَّرْعِ فَإِنَّ ذَلِكَ يَنْفَعُ وَلَا يَضُرُّ
Maksud mereka (Imam Ahmad dan lainnya) adalah melaksanakan hal-hal yang disenagi oleh Allah atau yang tidak disenangi berdasarkan dalil nash atau ijma’ ulama, seperti membaca al-Quran, tasbih, doa, sedekah, memerdekakan budak, berbuat baik kepada manusia, menjauhi dusta, khianat dan sebagainya…. Demikian halnya dorongan ibadah dan menjauhi larangan dengan dasar kisah-kisah Israiliyat, mimpi-mimpi, perkataan ulama Salaf, kejadian yang dialami para ulama dan hal yang tidak boleh dijadikan hukum Syar’i hanya karena hal diatas. Bukan menjadi hukum sunah atau lainnya. Namun boleh disebutkan dalam hal mendorong ibadah, menjauhi dosa, memberi harapan atau menakut-nakuti. Maka, sesuatu yang diketahui bagusnya atau buruknya berdasarkan dalil Syar’i maka hal itu boleh dan tidak berbahaya (Syaikh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa 4/50)
Contoh amaliah yang merujuk kepada hadis dlaif adalah Talqin di makam. Sedangkan contoh mengamalkan dari para ulama adalah melepas tali pocong dari sebagian Tabiin. Contoh mengamalkan mimpi adalah doa fida’ baik tahlil 70.000 kali maupun al-Ikhlas 100.000 kali. Jika Ibnu Taimiyah boleh mengamalkan, mengapa pengikutnya menolak?
Mengamalkan Tradisi
Masalah inilah yang paling banyak dituduh sebagai mengamalkan ajaran nenek moyang, yaitu tradisi. Padahal tidak semua tradisi harus dijauhi, bahkan tradisi yang dinilai baik oleh umat Islam boleh diamalkan, sebagaimana riwayat berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ : مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّىءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوْا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (رواه احمد والحاكم والطبراني والبزار . قال الذهبي قي التلخيص : صحيح وقال الهيثمي رجاله ثقات)
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Apa yang dilihat baik oleh umat Islam, maka baik pula bagi Allah. Dan apa yang dilihat buruk oleh umat Islam, maka buruk pula bagi Allah. Para sahabat kesemuanya telah berpandangan untuk mengangkat khalifah Abu Bakar” (Riwayat Ahmad, al-Hakim, al-Thabrani dan al-Bazzar. Al-Dzahabi berkata: Sahih. Al-Haitsami berkata: Para perawinya terpercata)
Mufti al-Azhar, Syaikh Athiyah Shaqr, berfatwa:
وَهَذَا الْأَثَرُ اسْتَدَلَّ بِهِ جُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّ الْعُرْفَ حُجَّةٌ فىِ التَّشْرِيْعِ وَلَكِنْ بِشَرْطِ عَدَمِ تَعَارُضِهِ مَعَ النُّصُوْصِ الصَّرِيْحَةِ وَالْأُصُوْلِ الْمُقَرَّرَةِ …. قَالَ الْعُلَمَاءُ : إِنَّ الْعُرْفَ لَا يُؤْخَذُ بِهِ إِلَّا بِشُرُوْطٍ مِنْهَا أَنْ يَكُوْنَ مُطَّرِدًا أَوْ غَالِبًا أَىْ شَائِعًا بَيْنَ الْكَثِيْرِيْنَ مَعَ مُرَاعَاةِ أَنَّ لِكُلِّ جَمَاعَةٍ عُرْفَهَا وَمِنْهَا أَلَّا يَكُوْنَ مُخَالِفًا لِنَصٍّ شَرْعِىٍّ كَشُرْبِ الْخَمْرِ وَلَعْبِ الْمَيْسِرِ وَالتَّعَامُلِ بِالرِّبَا … (فتاوى الأزهر – ج 10 / ص 336)
Atsar (Ibnu Mas’ud) ini dijadikan dalil oleh mayoritas ulama bahwa ‘urf atau kebiasaan adalah sebuah dalil dalam agaman, namun dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran agama dan kaidah ushul yang telah ditetapkan… ulama berkata: Urf atau kebiasaan tidak digunakan kecuali dengan beberapa syarat, diantaranya harus berlaku secara umum oleh kebanyakan orang, serta melestarikan kebiasaan masing-masing. Diantaranya juga tidak bertentangan dengan dalil agama, seperti minum khamr, permainan judi dan transaksi riba…” (Fatawa al-Azhar 10/336)
Kriteria tradisi dengan syarat diatas juga dibenarkan dalam pandangan ulama 4 madzhab, seperti oleh Syaikh Zadah al-Hanafi dalam Majma’ al-Anhar 5/361, Syaikh ad-Dasuqi al-Maliki dalam Hasyiah ‘ala asy-Syarh al-Kabir 15/372, al-Hafidz as-Suyuthi asy-Syafi’i, Asybah wa an-Nadzair, 1/164, dan Syaikh asy-Syinqithi dalam Syarah Zad al-Mustaqni’ 6/166.
Ma’ruf Khozin, Anggota di Aswaja NU Center Jatim dan LBM PWNU Jatim

Selasa, 04 Oktober 2016

Ketika Sayyidina Umar Mencium Istrinya saat Berpuasa


Pada suatu waktu di bulan Ramadhan, Sayyidina Umar bin Khattab tak tahan untuk tidak mencium istrinya. Sesaat Umar ingat bahwa ini bulan Ramadan, maka hebohlah Umar dan bergegas menemui Nabi SAW dan melaporkan kepada Nabi, "Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa". 


Rasulullah kalem menanggapi Umar, beliau SAW balik bertanya, "Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?" Umar menjawab, "Seperti itu tidak mengapa." Kemudian Rasulullah bersabda, "Lalu apa masalahnya?" (HR Ahmad)



Saya terpesona membaca riwayat ini. Rasulullah menjawab dengan sekaligus mengajarkan logika. Mencium dianalogikan dengan kumur-kumur. Artinya, tidak sampai meminum air kan? Mencium tidak sama dengan menggauli isteri. Nabi bisa saja menjawab dengan mengatakan, "Tidak apa-apa" secara tegas. Tapi tidak! Kakek Hasan dan Husain ini memilih memberi jawaban dengan logika. 



Kelak madzhab Umar yang sering bertumpu pada ra'yu (pertimbangan akal, red) mempengaruhi pandangan para ulama di Kufah (Iraq), termasuk Imam Abu Hanifah. Jadi, menggunakan ra'yu bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan Rasul sendiri yang mengajarkannya. 



Kedudukan Umar di sisi Rasul memang istimewa. Dalam riwayat Bukhari-Muslim diceritakan mimpi Rasulullah sebagai berikut: "Ketika tidur, aku bermimpi bahwasanya aku diberi segelas susu. Setelah itu, aku pun langsung meminum sebagian susu tersebut, hingga aku merasakan kesegaran sampai ke ujung kuku. Kemudian aku berikan sisa susu tersebut kepada Umar bin Khattab." Para sahabat bertanya, "Ya Rasul, apa arti mimpi tersebut?" Rasulullah menjawab, "Ilmu". 
Nadirsyah Hosen‬, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Sumber : Website PBNU

Minggu, 02 Oktober 2016

Kehadiran Malaikat Kala Seorang Mukmin Sakit

Kalau kita tahu sebenarnya tidak ada alasan untuk sedih dan mengeluh saat sakit. Karena sebenarnya itu adalah bagian dari kasih sayang Allah SWT. Kalau selama ini banyak keluhan, itu karena tidak tahu rahasia di balik sakit tersebut. Penjelasan ini semoga bisa membesarkan hati.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat senangnya.”
Sabda Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan Abu Imamah al-Bahili. Dalam hadist yang lain: “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus empat malaikat untuk datang kepadanya.”

Allah memerintahkan malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya. Dan malaikat ketiga mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubah menjadi pucat pasi. Sedangkan yang terakhir, malaikat keempat untuk mengambil seluruh dosa. Maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.


Tatkala akan menyembuhkan hamba mukmin tersebut, Allah memerintahkan kepada malaikat pertama hingga ketiga untuk mengembalikan kekuatan, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

Namun untuk malaikat terakhir, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?” Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya saat sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”


Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.” Subhanallaah.
“Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampai pun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim)

“Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.” (HR Ath-Thabarani)
Dalam hadits riwayat al-Qadha’i disebutkan: “Penyakit panas itu menjaga tiap mukmin dari neraka. Dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun.”

Sumber : Santri News

KH Idham Chalid, Putra Pelosok Jadi Pemimpin Nasional

H Mahbub Djunaidi, kolumnis kenamaan itu, dalam tulisannya yang kocak “Wajah”, menggambarkan KH Idham Chalid sebagai berikut: perawakannya tipis tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar.
Meski demikian, menurut Ketua Umum PB PMII pertama tersebut, Kiai Idhamlah yang memegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956. Dan paling lama pula menjabat ketua NU. Idham memiliki kelincahan logika tinggi.
KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 M di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.
Keterkaitannya dengan NU dimulai pada tahun 1952 ketika ia aktif dalam Gerakan Pemuda Ansor, organisasi kepemudaan dibawah NU. Dua tahun kemudian ia dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal PBNU. Kemudian menjadi Ketua Umum PBNU. Mulai mengemban amanat itu, Idham otomatis sebagai tokoh termuda saat berusia 34 tahun yang pernah memimpin PBNU. Ia memimpin NU pada tahun 1956 sampai tahun 1984. Kepemimpinannya selama 28 tahun adalah sebuah catatan dan prestasi yang fenomenal baik pada masa tersebut maupun masa kini.
Kepemimpinan Idham di PBNU mematahkan mitos Jawa dan luar Jawa. Juga menghapus mitos bahwa Ketua Umum PBNU harus memiliki darah biru, yang dapat diartikan sebagai keturunan ulama besar yang terpandang.
Ayah Idham hanya berprofesi sebagai penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Keluasan pergaulan, kemahiran retorika serta kepiawan dalam melobi mengantarkan Idham sebagai tokoh besar pemimpin nasional. Idham menjadi pemimpin besar baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru karena kapasitas personal, kegigihan dalam perjuangan serta kemauan keras untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi bangsa dan agama.
Pada masa Perang Kemerdekaan, Idham berjuang di Kalimantan Selatan. Ia bergabung dengan badan perjuangan Serikat Muslim Indonesia (Sermi). Kemudian dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK). Bersama dengan Komandan Divisi IV ALRI, Letnan Kolonel Hassan Basri, ia mendirikan Fonds Nasional Indonesia Kalimantan. Ia ikut bergerilya bersama anggota divisi IV ALRI, bahkan diangkat sebagai penasihat. Pada bulan Maret 1949 ia ditangkap Belanda dan baru dibebaskan pada bulan November.
Dalam bidang pendidikan, pada tahun 1940, Idham menjadi guru di Madrasah Pondok Modern Gontor, bekas almamaternya. Setelah kembali ke daerah kelahirannya di Kalimantan Selatan pada tahun 1944, ia memimpin Normaal Islam School. Ia juga menghimpun sejumlah pesantren dengan mendirikan Ittihad Al Ma’ahid Al Islamiyyah. Kegiatan di dunia pendidikan masih dilanjutkan Idham ketika ia sudah menjadi pimpinan NU. Pada tahun 1956 ia mendirikan perguruan Islam Darul Ma’arif di Jakarta dan pada tahun 1960 mendirikan Pendidikan Yatim Darul Qur’an di Cisarua, Bogor.
Di bidang pemerintahan, beberapa kali Idham Chalid duduk dalam kabinet dengan jabatan antara lain Wakil Perdana Menteri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Juanda (1957-1959). Menteri Utama bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Ampera I (1966-1967), Menteri Negara Kesejahteraan dalam Kabinet Ampera II (1967-1968), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Selain itu, ia juga pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977) dan Ketua MPR (1972-1977), Ketua DPA (1978-1983).
Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University Kairo, Mesir ini yang yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi, wafat pada 11 Juli 2010. Ia dimakamkan di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.
Setahun kemudian, KH Idham Chalid diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan 6 tokoh lain, berdasarkan Keppres Nomor 113/TK/Tahun 2011 tanggal 7 November 2011. Ia merupakan putera Banjar ketiga yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional setelah Pangeran Antasari dan Hasan Basry. Dan kini, sebentar lagi akan menghiasi mata uang Rupiah 5.000. (nuonline)

Jumat, 30 September 2016

Nasihat Imam Syafi'i Dalam Memilih Teman

Jangan mudah mengisolasi diri, bertemanlah dengan semua golongan. Kalangan terkecil hingga kalangan terbesar. Orang-orang sholeh dan orang yang masih tolah-toleh. Anak kecil hingga orang tertua dan kalangan ahli taat sampai ahli maksiat.
Mereka juga butuh terhadap sentuhanmu, butuh terhadap sedikit pengajaran ilmu yang sudah pernah engkau pelajari, butuh terhadap sedikit harta yang engkau miliki.
Janganlah suka memilah-milih teman. Bolehlah teman sholeh yang kau jadikan teman akrab, tapi jangan pernah meninggalkan teman-teman yang masih belum berada pada jalan yang benar. Belajarlah dari semua kalangan, semua golongan dan tancapkan dalam hatimu bahwa orang yang paling tidak mulia di bumi ini adalah dirimu.

Perenungan
Status yang tertuliskan ini ditulis pada 30 Juli 2016, tepatnya 2 bulan yang lalu. Setelah saya pikir-pikir memang sangatlah benar dan membantu.

Saya punya teman mulai dari pembunuh, pembegal, narkoba dan segala kejahatan lain, begitu pula saya kenal dengan para alim Ulama atau kiai, mulai kiai tingkat kecamatan hingga tingkat international.
Butuhnya bersahabat dengan mereka adalah ketika suatu saat nanti kita ada hajat mereka tidak akan meninggalkan kita. Hidup dengan orang banyak memang harus tahan mental, harus tidak mudah sakit hati.

Berkata Imam Syafi’i di dalam Diwannya:

إذا رمت أن تحيا سليماً من الردى | ودينك موفور وعرضك صين
فلا ينطقن منك اللسان بسوأةٍ | فكلك سوؤات وللناس السن
وعيناك إن أبدت إليك معايباً | فدعها وقل يا عين للناس أعين
وعاشر بمعروفٍ وسامح من اعتدى | ودافع ولكن بالتي هي أحسن

ديوان الإمام الشافعي / 114
المخلاة / 130


Jika engkau ingin hidup tanpa kehinaan,
(yang mana) agama dan kehormatanmu senantiasa terjaga.

Maka janganlah terucap darimu keburukan seseorang,
Karena setiap yang ada padamu adalah aib dan manusia memiliki lisan (untuk mengumbar aibmu).

Jika matamu menampakkan padamu aib-aib orang lain.
Tinggalkanlah, dan katakan: “wahai mata (yang melihat aib orang lain), mereka juga punya mata (yang melihat aibku)”

Dan bergaullah engkau dengan baik, serta maafkan orang yang dzalim padamu.
Boleh engkau lawan orang dzalim itu namun dengan cara yang lebih bijak. (*)

Wallahu Musta’an


Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad.
An Nur II Bululawang Malang.

Sumber : Santri News